Kenapa Emas Jadi Pilihan Investasi yang Tepat di Tengah Ketidakpastian Ekonomi?
07 juli 2026
07 juli 2026
Di tengah banyaknya pilihan instrumen investasi mulai dari saham, reksadana, obligasi, deposito, hingga properti, emas tetap menjadi salah satu aset yang paling diminati dari generasi ke generasi. Artikel ini mengulas mengapa emas layak dipertimbangkan sebagai pilihan utama investasi, dibandingkan dengan karakteristik instrumen lainnya, berdasarkan data pasar terkini dan riset akademik.
Emas: Aset Lindung Nilai yang Terbukti Tangguh
Emas dikenal luas sebagai aset lindung nilai (safe haven) karena harganya justru cenderung menguat ketika kondisi ekonomi tidak menentu. Bukti nyatanya terlihat sepanjang 2025: harga emas Antam melonjak dari sekitar Rp1.430.000 per gram di awal tahun menjadi mendekati Rp2.378.000 per gram di akhir tahun, atau naik sekitar 66% hanya dalam satu tahun. Secara global, harga emas bahkan sempat mencetak rekor tertinggi di kisaran 5.400 dolar AS per troy ons pada akhir Januari 2026.
Beberapa keunggulan mendasar emas sebagai instrumen investasi:
Tahan terhadap inflasi: riset akademik menunjukkan bahwa saat inflasi meningkat, investor cenderung beralih ke emas sebagai pelindung daya beli, sehingga harganya ikut terkerek naik.
Diuntungkan saat suku bunga turun: ketika bank sentral menurunkan suku bunga acuan, biaya peluang memegang emas (dibanding aset berbunga) berkurang, sehingga permintaan emas cenderung meningkat.
Korelasi negatif dengan saham: riset dengan model ARDL menemukan hubungan negatif antara harga emas dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), artinya emas justru menguat saat pasar saham sedang tertekan, menjadikannya penyeimbang portofolio yang efektif.
Likuiditas tinggi: emas batangan maupun emas digital bisa dicairkan kapan saja, jauh lebih fleksibel dibanding obligasi atau properti yang terikat jangka waktu maupun proses jual-beli yang panjang.
Modal awal terjangkau: berbeda dengan emas fisik yang butuh dana besar per gramnya, kini investasi emas bisa dimulai dari nominal sangat kecil melalui layanan digital.
Dibandingkan Saham dan Reksadana Saham
Saham memang mencatat pertumbuhan jangka panjang yang menarik, dengan CAGR IHSG sekitar 9,77% selama 20 tahun terakhir (2005–2024) dan reksadana saham mencatat return sekitar 20,84% sepanjang 2025. Namun, keuntungan tinggi ini berbanding lurus dengan risiko dan volatilitas yang jauh lebih besar. Dalam periode 10 tahun terakhir (2015–2024) misalnya, CAGR IHSG justru hanya sekitar 3,08% akibat adanya fase bearish di beberapa tahun. Artinya, waktu masuk pasar sangat menentukan hasil, dan investor saham perlu memantau pergerakan pasar secara aktif serta siap menghadapi penurunan nilai investasi yang tajam dalam jangka pendek.
Emas, sebaliknya, tidak menuntut pemantauan harian dan lebih cocok untuk investor yang mengutamakan stabilitas dibanding mengejar potensi keuntungan tinggi yang berisiko.
Dibandingkan Obligasi dan Deposito
Obligasi dan deposito menawarkan kepastian imbal hasil karena besarannya ditentukan di awal. Per Maret 2026, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di kisaran 6,88%, sementara suku bunga deposito tenor 1 bulan sempat berada di level 4,17% pada Februari 2026 sebelum arah kebijakan Bank Indonesia berubah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75% pada Juni 2026.
Namun, kedua instrumen ini memiliki kelemahan yang justru menjadi keunggulan emas: dananya terkunci hingga jatuh tempo dan sulit dicairkan sewaktu-waktu tanpa penalti, serta rentan tergerus inflasi ketika suku bunga acuan berada di level rendah. Emas tidak memiliki keterikatan waktu semacam ini, sehingga jauh lebih fleksibel bagi investor yang sewaktu-waktu membutuhkan dana darurat.
Dibandingkan Properti
Properti memang dikenal sebagai aset yang nilainya cenderung terus meningkat dalam jangka panjang. Namun, properti tergolong aset dengan likuiditas rendah, karena proses jual-belinya memakan waktu lama dan memerlukan modal besar di awal, ditambah biaya perawatan dan risiko kerusakan fisik. Emas menjadi alternatif aset fisik yang jauh lebih mudah dicairkan sebagian maupun keseluruhan, dengan modal awal yang jauh lebih terjangkau.
Apa Kata Riset Akademik?
Studi yang membandingkan return dan risiko investasi saham blue chip, emas PT Antam, dan deposito periode 2016–2019 menggunakan uji statistik One Way ANOVA menemukan bahwa secara rata-rata, return ketiga instrumen tersebut tidak berbeda signifikan. Namun, tingkat risiko atau volatilitasnya berbeda signifikan antar-instrumen. Artinya, untuk potensi keuntungan yang relatif setara, emas menawarkan profil risiko yang secara historis lebih terkendali dibanding saham.
Inestasi Emas Kini Lebih Mudah Lewat Pegadaian
Salah satu kendala investasi emas fisik adalah kebutuhan modal besar dan urusan penyimpanan yang merepotkan. Pegadaian menjawab tantangan ini lewat layanan Tabungan Emas, yang memungkinkan siapa pun membeli emas mulai dari sekitar Rp10 ribuan saja. Saldo Tabungan Emas dijamin setara emas 24 karat, bersifat likuid karena bisa dicairkan, dikonversi menjadi emas fisik, atau ditransfer ke sesama pengguna. Setelah saldo bertambah, nasabah bahkan bisa mengembangkannya lewat fitur Deposito Emas untuk berpeluang memperoleh hasil tambahan.
Kombinasi antara sifat emas yang stabil, likuid, dan tahan inflasi dengan kemudahan akses lewat Pegadaian menjadikan emas pilihan yang praktis, terutama bagi pemula yang ingin mulai berinvestasi tanpa harus memantau pasar setiap hari.
Kesimpulan
Meski setiap instrumen investasi memiliki keunggulannya masing-masing, emas menonjol karena kombinasi stabilitas nilai, ketahanan terhadap inflasi, likuiditas tinggi, dan kemudahan akses yang kini semakin terjangkau lewat layanan seperti Tabungan Emas Pegadaian. Bagi investor yang mengutamakan keamanan aset jangka panjang tanpa perlu repot memantau pasar setiap saat, emas menjadi pilihan yang layak diprioritaskan dalam portofolio. Meski begitu, kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan, sehingga tetap disarankan untuk memahami profil risiko masing-masing sebelum berinvestasi.
Referensi:
Bank Indonesia. (2026). Tinjauan Kebijakan Moneter Maret 2026. https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/TKM-Maret-2026.aspx
Bank Indonesia. (2026). Siaran Pers: BI-Rate Naik 25 bps Menjadi 5,75%. https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2812626.aspx
Alhusin, S. (2022). Perbandingan Tingkat Pengembalian (Return) dan Risiko (Risk) Investasi Saham, Emas, dan Deposito PT Antam Tbk. Stability: Journal of Management and Business, 5(2), 220–233. https://journal.upgris.ac.id/index.php/stability/article/view/14483
Jurnal Bisnis dan Ekonomi. (2025). Pengaruh Harga Emas, Suku Bunga dan Nilai Tukar Rupiah terhadap IHSG. Vol. 6, No. 3, Oktober 2025. https://ejurnal.seminar-id.com/index.php/jbe/article/download/8261/4103/
Jurnal Media Akademik. (2026). Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, dan Nilai Tukar terhadap Harga Emas di Indonesia Tahun 2025. https://jurnal.mediaakademik.com/index.php/jma/article/download/5807/4185/15646
Kontan.co.id. (2025). Semua Jenis Reksadana Kompak Cetak Return Positif, Reksadana Ini Paling Unggul. https://investasi.kontan.co.id/news/semua-jenis-reksadana-kompak-cetak-return-positif-reksadana-ini-paling-unggul
Kontan.co.id. (2026). Return Reksadana 2025. https://pusatdata.kontan.co.id/infografik/179/Return-Reksadana-2025
Bolasalju.com. (2025). Sejarah Kinerja IHSG 10 Tahun. https://www.bolasalju.com/artikel/sejarah-kinerja-ihsg-10-tahun/
Logam Mulia. Obligasi vs Emas, Pilih yang Mana? https://www.logammulia.com/id/news/obligasi-vs-emas--pilih-yang-mana-
Pegadaian.co.id. (2026). Reksadana vs Emas, Mana yang Tepat untuk Investasi? https://pegadaian.co.id/artikel/berita/reksadana-vs-emas
Kompas.id. (2026). Inflasi dan Kebijakan Bank Sentral Tentukan Harga Emas. https://www.kompas.id/artikel/en-harga-emas-ditentukan-inflasi-dan-kebijakan-suku-bunga-bank-sentral